Make your own free website on Tripod.com
index

Masalah Perilaku Bhiku Tertinggi Nikken yang Memalukan



(1) Bhiku Tertinggi Nikken Dipanggil ke Pengadilan (Peristiwa Seattle)

Pada tanggal 29 September 1997, Pengadilan Daerah Tokyo memutuskan untuk memanggil Bhiku Tertinggi Nichiren Shoshu, Nikken Abe, untuk memberikan kesaksian sebagai saksi di bawah sumpah pada sesi pemeriksaan pengadilan terhadap kasus yang dikenal dengan nama Peristiwa Seattle pada tanggal 22 Desember 1997, dan kemudian tanggal 2 Februari 1998. Setelah itu, Bhiku Tertinggi Nikken dipanggil lagi ke pengadilan untuk ketiga kalinya pada tanggal 28 Mei 1998. Dalam keseluruhan sesi itu, Nikken diharuskan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan dugaan pertengkaran antara Nikken dengan pelacur pada saat kunjungan pertama ke luar negeri pada tahun 1963 dalam rangka pemberian mandala kepada umat di luar negeri.

Latar Belakang dan Implikasinya

Kasus yang kemudian dikenal sebagai 'Peristiwa Seattle' pertama-tama diungkapkan pada tahun 1992 oleh almarhum Ny. Hiroe Clow. Ny. Clow yang telah menyimpan rahasia atas peristiwa tersebut selama 30 tahun, memutuskan untuk bangkit dan berbicara secara terbuka tentang apa yang telah dia saksikan karena semakin terungkapnya berbagai perilaku bhiku yang tidak senonoh
Setelah Ny. Clow membongkar rahasia tersebut, Bhiku Tertinggi Nikken mulai menyebut Ny. Clow sebagai pembohong dalam ceramah dan dalam majalah bulanan kuil. Sebagai respons, Ny. Clow mengajukan tuntutan pencemaran nama baik ke Pengadilan Superior Los Angeles terhadap Bhiku Tertinggi Nikken. Perkara tersebut ditolak oleh Pengadilan Superior tanpa persidangan setelah hakim memutuskan bahwa pengadilannya tidak mempunyai hak hukum atas kasus tersebut.
Pada tahun 1993, setelah Ny. Clow mengajukan tuntutannya, pengacara Bhiku Tertinggi Nikken mengajukan tuntutan pencemaran nama baik ke Pengadilan Daerah Tokyo. Ny. Clow telah hadir di Pengadilan Tokyo pada tiga kesempatan untuk bersaksi bahwa pada waktu itu, Bhiku Nikken telah ditahan oleh polisi atas dugaan bersenggama dan bertengkar dengan pelacur, dan bahwa Ny. Clow yang saat itu menjadi salah satu penanggung jawab kunjungan Bhiku Nikken di kota tersebut, telah dipanggil ke tempat kejadian.
Dua mantan polisi Seattle juga memberikan saksi. Yang satu hadir di Pengadilan Daerah Tokyo dan satu lagi melalui pernyataan di bawah sumpah. Kedua saksi tersebut menyatakan bahwa mereka ingat bertemu dengan Bhiku Nikken pada tengah malam suatu hari di tengah-tengah pertengkaran sengit atas masalah uang dengan beberapa pelacur setempat. Bhiku Nikken yang tidak bisa berbahasa Inggris memperlihatkan nomor telepon Ny. Clow, dan polisi langsung menghubunginya dan meminta agar Ny. Clow segera datang ke tempat kejadian. Di sana, Ny. Clow berupaya keras untuk memberikan jaminan kepada Bhiku Nikken sehingga polisi membebaskannya untuk dijaga oleh Ny. Clow.
Dalam ketiga sesi pengadilan tersebut, Bhiku Tertinggi Nikken mencoba menjelaskan bahwa dia tidak menyebabkan pertengkaran apapun dengan pelacur. Dalam salah satu kesempatan, dia mengeluarkan sebuah bukti berupa catatan hariannya pada masa itu. Akan tetapi justru catatan harian inilah yang akan menghancurkan dirinya ketika ditemukan bahwa dalam catatan tersebut terdapat informasi yang telah ditambahkan di kemudian hari.

(2) Masalah Foto-foto Wanita Penghibur Kelas Atas (geisha)

Pada tahun 1992 foto-foto bergambar Nikken yang sedang dikelilingi oleh wanita penghibur kelas atas (geisha) terpancar. Pada saat itu Nikken berkata "foto-foto ini adalah foto-foto rekayasa. Muka orang lain sengaja diganti dengan muka saya." "Saya sendiri tidak memiliki jubah seperti di foto ini".
Namun, pada saat bhiku yang mengambil foto-foto ini mengaku bahwa foto tersebut foto benar, Nikken menuturkan bahwa "Bermain dengan wanita hiburan kelas tinggi bermaksud untuk menyelamatkan semua umat manusia tanpa membedakan jenis pekerjaan."
Dengan demikian Nikken menuntut hal tersebut ke pengadilan, oleh karena itu, masalah tersebut akhirnya diketahui oleh masyarakat di seluruh dunia.